SURAH AT-TIN
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
1. وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ
2. وَطُورِ سِينِينَ
3. وَهَذَا الْبَلَدِ الأمِينِ
4. لَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
5. ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ
6. إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ
غَيْرُ مَمْنُونٍ
7. فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعْدُ بِالدِّينِ
8. أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ
Artinya:
1. Demi (buah) Tin dan (buah)
Zaitun,
2. dan demi bukit Sinai,
3. dan demi kota (Mekah) ini
yang aman,
4. sesungguhnya Kami telah
menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.
5. Kemudian Kami kembalikan
dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka),
6. kecuali orang-orang yang
beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada
putus-putusnya.
7. Maka apakah yang menyebabkan
kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu?
8. Bukankah Allah Hakim yang
seadil-adilnya?
Arti perkata:
=
demi buah tin
= dan buah zaitun
= dan bukit
=
Sinai
= dan ini
=
negeri
=
sesungguhnya
=
manusia
=
bentuk
=
kami kembalikan
=
tempat yang rendah
=
kebajikan/saleh
=
pahala
=
terputus
=
mendustakanmu
=
hari pembalasan/ agama
=
lebih bijaksana
Makna
Dalam
surat at-Tin, Allah terlalu amat sangat jelas sekali ketika ingin benar2
mengatakan dan menetapkan bahwa manusia itu adalah makhluk ciptaan-Nya yang
sempurna. Bila kita perhatikan ayat pertama, kedua dan ketiga, 3 ayat tersebut
diawali dengan sumpah semua.
-Sumpah
tentang buah Tin dan Zaitun – Bukit Tursina dan Negeri Makah
Sebagian
mufasir mengartikan buah Tin dan Zaitun secara dhohir seperti termaktub dalam
alquran. Buah Tin dan Zaitun adalah buah yang banyak mempunyai manfaat bagi
kesehatan tubuh, bahkan ada satu riwayat dari Abu Darda yang menyatakan bahwa
Rasulullah pernah bersabda bahwa, kalau seandainya ada buah yang turun dari
langit maka itulah dia buah Tin......dan buah Zaitun sebagaimana yang kita
ketahui selain dia juga mengandung banyak manfaat kesehatan, buah tersebut
adalah buah yang diberkahi oleh Alloh. Bahkan ada juga yang meriwayatkan ketika
Adam dan Hawa diturunkan dari langit dan dalam keadaan tanpa busana mereka
berdua mengambil dedaunan Zaitun untuk dijadikan penutup aurat.
Yang tersebut diatas adalah yang memaknai buah Tin dan Zaitun sebagai dhohirul
ayah. Tapi ada juga yang memaknai Tin dan Zaitun disini sebagai kalimat
isti'arah yang menunjukan tempat. Tin yang dimaksud disini ada yang berpendapat
tempat dimana pohon buah Tin banyak tumbuh yaitu di Damaskus, sedangkan Zaitun
yang dimaksud disini adalah Baitul Muqaddas atau daerah Palestina. Pendapat
yang mengatakan hal tersebut dikuatkan dengan ayat2 selanjutnya yang
menerangkan tentang tempat-tempat dimana tiga agama samawi diturunkan oleh
Alloh sebelum diselewengkan oleh kaumnya sendiri.
- - Baitul Muqaddas adalah tempat
dimana Nabi Isa As diutus oleh Alloh untuk kaum Nashrani
- - Bukit Tursina adalah tempat
dimana Nabi Musa As diutus oleh Alloh untku kaum Yahudi
- - Sedangkan Makah adalah tempat
dimana Sayyidina Muhammad menerima wahyu ilahi untuk kita semua.
Setelah
tiga sumpah [qasm] tersebut Alloh memulai ayat keempat dengan jawaban sumpah
[jawab al-qasm], itulah bentuk lain dari penekanan bahwa manusia adalah ciptaan-Nya
yang paling sempurna.
Sedangkan
untuk ayat-selanjutnya adalah keterangan rinci bahwa setelah sedemikian rupa
Allah menganugrahkan penciptaannya kepada kita tinggal bagaimana kita menyikapi
karunia tersebut. Allah juga menjelaskan tentang adanya kebaikan dan keburukan.
Ternyata filosofi baik dan buruk bukan hanya ajaran agama samawi, agama buatan
manusia sekalipun juga mengakui disana ada kebaikan dan keburukan; Zoroaster
dengan Tuhan Yazdan dan Ahraman, Majusi dengan Tuhan Cahaya dan kegelapan dan
lain sebagainya. Setelah kita mengetahui sedemikian rupa hakikat manusia dalam
penciptaan yang sempurna maka, sikap tepat bagaimanakah yang seharusnya manusia
tersebut pertanggungjawabkan? Sungguh tidak ada dosa paling hina di dunia ini
kecuali berkhianat kepada Yang Maha mencipta. Rasul juga mengajari kita ketika
hendak berkaca untuk membaca doa yang artinya; Ya Allah sebagaimana engkau
menyempurnakan penciptaan jasadiyah kami maka sempurnakan pula lah ruhaniyah
kami.
Surah
Al-Mu’minun ayat 1-10
1. قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ
2. ٱلَّذينَ هُمْ في صَلاتِهِمْ خاشِعُونَ
3. وَ الَّذينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ
4. وَ الَّذينَ هُمْ لِلزَّكاةِ فاعِلُونَ
5. وَ الَّذينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حافِظُونَ
6. إِلاَّ عَلى أَزْواجِهِمْ أَوْ ما مَلَكَتْ أَيْمانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ
مَلُومينَ
7. فَمَنِ ابْتَغى وَراءَ ذلِكَ فَأُولئِكَ هُمُ العادُونَ
8. وَ الَّذينَ هُمْ لِأَماناتِهِمْ وَ عَهْدِهِمْ راعُونَ
9. وَ الَّذينَ هُمْ عَلى صَلَواتِهِمْ يُحافِظُونَ َ
10.
أُولئِكَ هُمُ الْوارِثُونَ
Artinya:
1. Sesungguhnya menanglah
orang-orang yang beriman.
2.
Orang-orang yang khusyu` di
dalam melakukan sembahyang.
3. Dan orang-orang yang
terhadap segala laku yang sia-sia menampik dengan keras.
4. Dan orang-orang yang
mengerjakan ZAKAT.
5. Dan orang-orang yang
selalu menjaga faraj (kelamin) mereka.
6. Kecuali terhadap isterinya
atau hambasahayanya, maka tidaklah mereka tercela.
7. Tetapi barangsiapa yang
masih memilih jalan di luar itu, itulah orang-orang yang telah melanggar
garis.
8.
Dan
orang-orang yang menjaga dengan baik terhadap amanat dan janjinya.
9. Dan orang-orang yang memelihara
dan menjaga semua waktu sembahyangnya.
10. Mereka itulah yang akan mewarisi.
Arti perkata:
=
Orang-orang yang beriman
=
Orang-orang yang khyusu
=
Perbuatan tak berguna
=
Pada zakat
=
Pada kemaluan mereka
=
Istri-istri mereka
=
Tangan kanan mereka
=
Tercela
=
Belakang (selain)
=
Melampaui batas
=
Pada amanat mereka
=
Mereka menjaga/memelihara
=
Orang-orang yang mewarisi
Kandungan
Hadis dari Imam Ahmad, diriwayatkan dari Umar Bin Khatab.
Dia berkata apabila wahyu turun pada Rasulullah SAW. Maka terdengarlah suara
seperti dengung lebah. Dan kami terdiam sejenak. Lalu beliau mengangkat kedua
tangannya seraya berdoa. “Ya Allah berilah tambahan pada kami, jangan
kau menguranginya, muliakanlah kami dan janganlah kau hinakan kami,
tambahkanlah rizky kami,utamakanlah kami, dan ridhoilah kami” …..Lalu
beliau berkata pada kami.”Sesungguhnya Allah sudah menurunkan 10 ayat
kepadaku, dan jikalau kalian mengamalkannya maka kalian adalah orang-orang yang
beruntung dan akan mendapatkan surga firdaus”.
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang
beriman (Ayat 1).
Kenapa bukan orang-orang islam, ataupun orang-orang kaya
atau pintar yang disebut beruntung? Karena hal itu tidaklah cukup. .
Orang beriman adalah orang yang beriman kepada Allah
dan rasulnya dan tiada keraguan. Tidak ada toleransi untuk mengurangi amalan.
Jadi jangan menganggap mengurangi amalan adalah perbuatan yang benar. Bisa saja
karena keraguan-keraguan itu, kita disebut sebagai orang yang munafik. Jangan
memberikan toleransi pada diri sendiri dalam berinadah.
Yaitu orang-orang yang khusyu dalam sembahyangnya
(Ayat 2).
Tidak semua orang mendapatkan khusyu. Dalam sebuah hadis
Rasulullah bersabda.”..sesungguhnya kesenanganku adalah wewangian dan wanita
serta khusyu dalam shalat”. Khusyu dalam sholat hanya akan didapat bagi
orang-orang yang menyerahkan jiwa dan raganya dalam sholat. Khusyu adalah
nikmat, karena Sholat mencegah perbuatan mungkar. Wajar saja jika banyak orang
sholat namun perbuatannya tak mencerminkan seorang yang ahli ibadah, karena
tiada kekhusyuan dalam ibadahnya sehingga hidupnya tidak tenang.
Orang yang menjauhkan diri dari perbuatan dan
perkataan yang tiada beruna (Ayat 3).
Renungkanlah kehidupan kita hingga saat ini, apakah segala
perbuatan kita bermanfaat. Mudah saja untuk menentukan suatu perbuatan apakah
bermanfaat atau tidak, yakni dengan memikirkan perbuatan kita yang kita lakukan
apakah mendekatkan kita pada Allah atau malah sebaliknya?. Islam menganjurkan
dalam perbuatan dan perkataan sehari-hari harus dalam kontur ibadah karena
Allah. Namun jangan menafsirkan bahwa sorang muslim tidak boleh bersantai
ataupun bersenang-senang. Namun jika ingin bersantai dan beristirahat lebih
dianjurkan agar hal itu dilakukan agar kita mendapat tubuh yang fresh dan bisa
lebih baik lagi dalam melakukan ibadah. Beristirahat dan bersenang-senanglah
untuk amal.
Dan orang-orang yang menunaikan zakat (Ayat 4).
Zakat adalah kewajiban yang kerap ditinggalkan. Hal itu
disebabkan karena manusia kerap tak sadar terhadap ni’mat Allah.
Orang-orang yang memelihara kemaluannya (Ayat 5).
Ini tidak hanya bagi yang beristeri. Bagi pemuda yang belum
menikah harus bisa memelihara pandangan, hati, pikiran dan angan-angannya. Saat
ini, kita bisa melihat banyak anak-anak muda yang terjebak dalam pergaulan
bebas. Karena mereka masih bodoh/alfa dalam mengendalikan nafsu. Bahkan bagi
seorang muslim sejati, mengkhayal yang tidak-tidak saja dalam pikirannya
hukumnya adalah haram. Puasa sunat adalah obat paling ampuh untuk mengendalikan
nafsu.
Orang-orang yang memelihara amanat (Ayat 8).
Dalam Al-quran disebutkan bahwa ketika amanat diserahkan
kepada gunung-gunung, namun mereka tak sanggup memikulnya. Akhirnya amanat
diterima oleh manusia. Amanat adalah hal besar yang harus dipertanggungjawabkan
di akherat kelak. Ingat, tak ada satupun amanat yang tidak akan
dipertanggungjawabkan. Maka berhati-hatilah dalam berjanji, dan jikalau memikul
amanat, tuntaskan dengan sebaik-baiknya.
Dan oraang-orang yang memelihara sembahyang (Ayat
9).
Melakasanakan sholat tepat waktu dan menjaga sholat-sholat
yang dapat merusaknya. Imam Makhsud meriwayatkan bahwa shalat tepat waktu
adalah amalan utama yang amat disukai oleh Allah SWT.
Dan merekalah orang-orang yang akan mewarisi surga
firdaus (Ayat 11)
Bagaimana? Sudahkah amalan diatas kita kerjakan?. Jika
bermimpi ingin selamat dunia akherat. Rasulullah menganjurkan agar kita
mengamalkan ayat-ayat Al Qur’an di atas.
SURAH AL ANFAL AYAT 2-4
1. إِنَّمَاالْمُؤْمِنُونَالَّذِينَإِذَاذُكِرَاللّهُوَجِلَتْقُلُوبُهُمْوَإِذَاتُلِيَتْعَلَيْهِمْآيَاتُهُزَادَتْهُمْإِيمَانًاوَعَلَىرَبِّهِمْيَتَوَكَّلُونَ
3. الَّذِينَيُقِيمُونَالصَّلاَةَوَمِمَّارَزَقْنَاهُمْيُنفِقُونَ
4. أُوْلَئِكَهُمُالْمُؤْمِنُونَحَقًّا
لَّهُمْدَرَجَاتٌعِندَرَبِّهِمْوَمَغْفِرَةٌوَرِزْقٌكَرِيمٌ
Artinya:
1. Sesungguhnya orang-orang
yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut Allah gemetarlah hati
mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman
mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal,
2. (yaitu) orang-orang yang
mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan
kepada mereka.
3. Itulah orang-orang yang
beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat
ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia.
Arti
perkata:
إِنَّمَا : sesungguhnya hanyalah
الْمُؤْمِنُونَ : orang-orang yang beriman
إِذَا : apabila
ذُكِرَ : di sebut
وَجِلَتْ : gemetarlah
قُلُوبُهُمْ : hati mereka
تُلِيَتْ : di bacakan
ءَايٰتُهُۥ : ayat-ayatnya
رَبِّهِمْ :
tuhan mereka
يَتَوَكَّلُونَ :
mereka bertawakal
الصَّلَوٰةَ :
sholat
وَمِمَّا : dan dari ap (rezeki)
رَزَقْنٰهُمْ :
telah kami berikan rezeki kepada mereka
يُنفِقُونَ :
mereka menafkahkan
أُو۟لٰٓئِكَ : itulah
حَقًّا : sebenar-benarnya
دَرَجٰتٌ :
derajat
عِندَ : di sisi
وَمَغْفِرَةٌ :
dan ampunan
كَرِيمٌ : yang mulia
KANDUNGAN
Tafsir Global
Empat ayat pertama ini merupakan muqaddimah
(pendahuluan) surah Al-Anfal. Surah Al-Anfal dimulai dengan penjelasan tentang
hukum hasil rampasan perang (al-anfal, ghanimah) yang merupakan salah satu
dampak peperangan. Hukum pembagiannya dikembalikan kepada Allah dan Rasul
shallallahu ’alaihi wasallam, yang kemudian dijelaskan secara rinci pada ayat
41. Yang demikian ini karena Allah-lah pemilik segala sesuatu, dan Rasulullah
shallallahu ’alaihi wasallam adalah khalifah-Nya.
Selanjutnya Allah Ta’ala memerintahkan
orang-orang beriman dengan tiga hal, yaitu taqwa, memperbaiki hubungan antar
sesama mukmin dan taat kepada Allah serta Rasulullah shallallahu ’alaihi
wasallam. Ketiga hal tersebut merupakan perkara-perkara yang sangat penting
dalam jihad. Jihad yang tidak dilandaskan pada ketaqwaan bukanlah jihad yang
benar dalam kacamata Islam. Selanjutnya, jihad sangat membutuhkan kesatuan dan
kesolidan shaf. Oleh karena itu wajib dilakukan upaya perbaikan hubungan antar
sesama mujahidin, khususnya jika terjadi perselisihan. Mengapa? Karena
perselisihan selalu merupakan faktor penyebab terjadinya kelemahan dan
kegagalan (QS Al-Anfal: 46). Selain ketaqwaan dan kesatuan shaf, kedisiplinan
(indhibath) merupakan syarat yang sangat asasi dalam jihad, karena jihad tidak
mungkin bisa ditegakkan tanpa adanya unsur kedisiplinan diantara para mujahidin.
Dan asas kedisiplinan dalam Islam adalah ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya,
yang sekeligus merupakan tanda dan parameter keimanan.
Berikutnya dalam ayat 2 sampai 4, Allah
Ta’ala menyebutkan sifat-sifat mukminin sejati. Ini sangat relevan dan penting
dalam konteks jihad islami. Karena hanya dengan iman yang sejati dan hakikilah
jihad islami bisa tegak. Yang disebut dengan iman yang hakiki adalah perpaduan
antara iman akal pikiran yang bersifat teoretis dan iman hati yang bersifat
praktis implementatif (Lihat QS Al-Hujurat: 14-15).
Diriwayatkan bahwa seseorang bertanya
kepada Imam Hasan Al-Bashri. ”Ya Aba Sa’id (julukan Imam Hasan Al-Bashri),
apakah Anda seorang mukmin?” Beliaupun menjawab,”Iman itu ada dua macam. Jika
yang kamu tanyakan adalah iman (secara teoretis) kepada Allah, pada
malaikat-malaikat-Nya, pada kitab-kitab-Nya, pada rasul-rasul-Nya, pada Surga,
pada Neraka, pada Hari Berbangkit dan pada Hari Penghisaban, maka saya adalah
orang yang beriman. Namun jika yang kamu tanyakan adalah tentang firman Allah:
’Orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang apabila disebut Nama Allah
bergetarlah hatinya’... dan seterusnya sampai ’Mereka itulah sebenar-benarnya
orang-orang yang beriman’ (QS Al-Anfal: 2-4), maka demi Allah saya tidak tahu
apakah saya benar-benar termasuk dalam kategori mereka atau tidak.”
Pada ayat 2 sampai 4, Allah menyebutkan
beberapa sifat orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Pertama, mereka
adalah orang-orang yang jika disebut Nama Allah, mereka gemetar dan takut.
Kedua, jika dibacakan ayat-ayat Al-Qur’an, iman mereka menjadi bertambah.
Ketiga, mereka bertawakkal hanya kepada Allah semata. Keempat, mereka
menegakkan shalat dengan menyempurnakan seluruh syarat, rukun, wajib dan sunnahnya.
Dan kelima, mereka adalah orang-orang yang gemar berinfak dari rizki yang
diberikan kepada mereka, dan ini mencakup pembayaran zakat serta pemenuhan
hak-hak sesama, baik yang wajib maupun yang sunnah.
AT
TAUBAH AYAT 71
Artinya:
Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan
perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang
lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar,
mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka
itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana.(71)
Arti Perkata:
أَوْلِيَآءُ :
pelindung/penolong
يَأْمُرُونَ :
mereka menyuruh
بِالْمَعْرُوفِ : dengan berbuat kebaikan
وَيَنْهَوْنَ :
dan mereka mencegah
الْمُنكَرِ ;
berbuat kemungkaran
وَيُقِيمُونَ :
dan mereka mendirikan
الصَّلَوٰةَ :
salat
الصَّلَوٰةَ :
dan mereka menunaikan
الزَّكَوٰةَ : zakat
وَيُطِيعُونَ : dan mereka taat
وَرَسُولَهُۥٓ : rasulNya
سَيَرْحَمُهُمُ : mereka di beri rahmat
إِنَّ :
sesungguhnya
عَزِيزٌ : maha perkasa
اللَّـهَ : Allah
حَكِيمٌ : maha bijaksana
KANDUNGAN
Secara
jelas, pada ayat 71 di atas, menguraikan keadaan dan karakteristik orang-orang
mukmin, yaitu sebagian mereka (mukmin dan mukminat) sebagian mereka menjadi
penolong bagi sebagian yang lain, menyuruh yang ma’ruf, mencegah yang mungkar,
menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Lima karakteristik mukmin/nat inilah yang dalam ayat ini mendapatkan garansi
rahmat dari Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Rahmat yang dalam
redaksi ayat ini menggunakana سيرحمهم (akan merahmati mereka), rahmat di sini bukan hanya rahmat di
akhirat, tetap melingkupi juga rahmat di dunia dan akhirat. Dan rahmat terbesar
antara lain adalah kenikmatan berhubungan dengan Allah dan rahmat ketenangan
batin. Kenikmatan di dunia bentuknya sangat bervariasi, dari indahnya hidup
berumah tangga, hingga nikmat dan berkahnya rizki yang melimpah. Begitupun
rahmat di akhirat yang sudah pasti sulit untuk diungkapkan dan digambarkan,
yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak terdengar sebelumnya oleh telinga,
dan atau bahkan tidak terlintas dalam benak pikiran manusia. Jika melihat pada
ayat-ayat sebelumnya, keadaan berbalik justru diulas pada ayat 67-68 yang
mengulas karakteristik orang-orang munafik yaitu, mereka menyuruh yang munkar
dan melarang yang ma’ruf, menggenggamkan tangan mereka, dan mereka melupakan
Allah. Pada redaksi ayat 71 yang berbunyi بعضهم أولياء بعض (sebagian mereka
adalah penolong bagi sebagaian yang lain) yang menjelaskan keadaan
karakteristik orang-orang mukmin dan mukminat. Flash back ke ayat 67 kembali
terdapat perbedaan redaksi berbunyi بعضهم من بعض (sebagian mereka dari sebagian yang lain).
Hal ini memberikan perhatian tersendiri bagi mufassir, sehingga beragam pula
penjelasannya. Ada yang berpandangan bahwa ini merupakan isyarat kaum mukminin
yang tidak saling menyempurnakan keimanannya lantaran setiap orang mukminin
sudah tetap imannya. Dalam artian bahwa mereka telah memiliki keimanan yang
mantap, bukan taklid buta. Keteragan ini terindikasi dari redaksi ayat awliyâ’
yang bermakna ketulusan dalam menolong. Keadaan berbalik dari orang-orang
munafik yang kesatuan mereka atas dasar dorongan sifat-sifat buruk. Demikian
ungkapan al-Biqâ’i, juga Ibnu ‘Asyûr, diuraikan pula oleh M. Quraish Shihab.
SURAH AL MUJADALAH AYAT 11
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي
الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا
فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا
الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا (11)تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
ARTINYA:
Hai orang-orang beriman apabila dikatakan
kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah
akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka
berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu
dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui
apa yang kamu kerjakan.
ARTI PERKATA:
يٰٓأَيُّهَا : wahai
ءَامَنُوٓا۟ : beriman
قِيلَ : di katakan
تَفَسَّحُوا۟ :
berlapang-lapanglah
الْمَجٰلِسِ : majelis
لَكُمْ : kepadamu
انشُزُوا۟ : bangunlah
يَرْفَعِ : meninggikan
مِنكُمْ : di antara kamu
الْعِلْمَ : ilmu
دَرَجٰتٍ : derajat
بِمَا : dengan apa-apa
تَعْمَلُونَ : kamu kerjakan
خَبِي : maha mengetahui
KANDUNGAN
Asbabun Nuzul QS. Al-Mujadalah ayat
11 ini, diriwayatkan oleh Ibn Abi Hatim dari Muqatil bin Hibban, ia mengatakan
bahwa pada suatu hari yaitu hari Jum’at, Rasulullah Saw berada di Shuffah
mengadakan pertemuan di suatu tempat yang sempit, dengan maksud menghormati pahlawan
perang Badar yang terdiri dari kaum Muhajirin dan Anshar. Beberapa pahlawan
perang Badar ini terlambat datang, diantaranya Tsabit bin Qais, sehingga mereka
berdiri diluar ruangan. Mereka mengucapkan salam “Assalamu’alaikum Ayyuhan Nabi
Wabarakatuh”, lalu Nabi menjawabnya. Mereka pun mengucapkan sama kepada
orang-orang yang terlebih dahulu datang, dan dijawab pula oleh mereka. Para
pahlawan Badar itu tetap berdiri, menunggu tempat yang disediakan bagi mereka
tetapi tak ada yang memperdulikannya. Melihat keadaan tersebut, Rasulullah
menjadi kecewa lalu menyuruh kepada orang-orang di sekitarnya untuk berdiri.
Diantara mereka ada yang berdiri tetapi rasa keengganan nampak di wajah mereka.
Maka orang-orang munafik memberikan reaksi dengan maksud mencela Nabi, sambil
mengatakan “Demi Allah, Muhammad tidak adil, ada orang yang lebih dahulu datang
dengan maksud memperoleh tempat duduk di dekatnya, tetapi disuruh berdiri untuk
diberikan kepada orang yang terlambat datang”. Lalu turunlah ayat ini.
Bagian akhir ayat ini menjelaskan
bahwa Allah akan mengangkat tinggi kedudukan orang yang beriman dan orang yang
diberi ilmu. Orang-orang yang beriman diangkat kedudukannya oleh Allah dan
Rasul-Nya, sedangkan orang-orang yang berilmu diangkat kedudukannya karena
mereka dapat member banyak manfaat kepada orang lain. Ilmu disini tidak
terbatas pada ilmu-ilmu agama saja, tetapi termasuk di dalamnya ilmu-ilmu
keduniaan. Apapun ilmu yang dimiliki seseorang bila ilmu itu bermanfaat bagi
dirinya dan orang lain, ilmu itu tergolong salah satu dalam tiga pusaka yang
tidak akan punah meskipun pemiliknya telah meninggal dunia. Tiga pusaka
dimaksud adalah sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang shaleh yang
mendoakan kepada orang tuanya.
Dalam QS. Al-Mujadalah ayat 11 di
atas, Allah menganjurkan kepada kita agar senantiasa mau bekerja keras, baik
dalam menuntut ilmu maupun bekerja mencari nafkah. Hanya orang-orang yang rajin
belajarlah yang akan mendapatkan banyak ilmu. Dan hanya orang-orang yang
berilmulah yang memiliki semangat kerja untuk meraih kebahagiaan hidup. Oleh
karena itu, Allah menjamin akan mengangkat derajat kehidupan orang-orang yang
beriman dan berilmu.
Dalam kehidupan sehari-hari kita
dapat menyaksikan orang yang rajin belajar dan bekerja hidupnya sukses dan berprestasi,
sedangkan orang yang malas dan tidak memiliki ilmu hidupnya susah dan selalu
gagal. Betapa pentingnya memiliki ilmu pengetahuan dan semangat berkerja keras.
Sebab hanya dengan ilmu yang bermanfaat dan amal yang bergunalah manusia akan
mendapatkan kebahagiaan hidup, baik di dunia maupun di akhirat.
Perilaku orang yang mengamalkan isi
kandungan ayat antara lain :
- Perilaku disiplin dan taat asas, sehingga tidak ada
pihak yang dirugikan baik diri sendiri maupun orang lain
- Menghormati hak dan kewibawaan orang lain, sebab pada
dasarnya semua orang ingin dihargai dan dihormati kewibawaannya
- Rajin dan giat mencari ilmu, baik ilmu umum maupun ilmu
agama
- Rajin dan taat beribadah kepada Allah
- Bersikap sportif dan konsekuen dengan bersedia menerima
kesalahan dan kekurang diri sendiri serta mengakui kelebihan dan kebenaran
dari orang lain
- Bekerja/belajar sesuai dengan aturan yang telah
ditentukan
- Bekerja/belajar dengan penuh semangat, sehingga
dipandang sebagai sesuatu yang menyenangkan
- Bekerja dengan sikap penuh tanggung jawab, tidak hanya
kepada manusia melainkan kepada Allah
- Bekerja dengan didasari niat ibadah kepada Allah Swt.
Sebagai generasi yang hidup pada era
modern, persaingan hidup semakin ketat dan peluang mendapat pekerjaan semakin
sempit, hendaknya kita dapat mempersiapkan diri dengan berbagai bekal ilmu
pengetahuan dan keterampilan, serta etos kerja yang baik. Dengan demikian kita
tidak akan tertinggal oleh generasi lain yang juga memiliki perbekalan diri
yang cukup. Oleh sebab itu, hendaknya kita dapat membiasakan diri beretos kerja
yang baik sejak saat ini. Untuk dapat membiasakan diri menerapkan beretos kerja
yang baik, hendaknya terlebih dahulu diperhatikan :
- Pahami dengan baik bahwa waktu dan kesempatan datangnya
hanya sekali dalam seumur hidup. Hari ini tidak akan datang lagi pada hari
esok atau lusa, ia akan terkubur oleh hari-hari berikutnya.
- Biasakan menghargai waktu dan menggunakannya untuk
hal-hal yang positif, jangan biarkan waktu berlalu tanpa arti atau terisi
dengan perbuatan yang sia-sia
- Biasakan hidup teratur dan bersikap disiplin, taat
kepada aturan, tepat atas komitmen, dan setia pada janji, sehingga hidup
terasa indah dan bermakna
- Jadikan suatu pekerjaan sebagai kewajiban yang harus
ditunaikan, sehingga tidak terbersit pikiran akan menyepelekannya
- Mulailah membiasakan diri beretos kerja yang baik sejak
sekarang, dengan menata jadwal kegiatan sendiri dan berusaha menepati dan
melaksanakannya.
SURAH SABBA AYAT 6
ARTINYA:
6. Dan orang-orang yang diberi ilmu (Ahli Kitab) berpendapat bahwa wahyu
yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itulah yang benar dan menunjuki (manusia)
kepada jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.
ARTI PERKATA:
وَيَرَى : dan melihat/berpendapat
الْعِلْمَ : ilmu
أُنزِلَ : di turunkan
إِلَيْكَ : kepadamu
رَّبِّكَ : tuhanmu
الْحَقَّ : benar
وَيَهْدِىٓ : dan ia memberi petunjuk
صِرٰطِ : jalan
الْعَزِيزِ : maha perkasa
الْحَمِيدِ : maha terpuji
KANDUNGAN
Dari ayat tersebut artinya ialah bahwa orang yang diberi
ilmu pengetahuan oleh Tuhan,pastilah karena ilmunya itu akan mempercayai
kandungan isi Al-Quran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW adalah suatu
kebenaran. Diantara isi Al-Quran itu tentang akan adanya hari kiamat kelak.
Akan ada lanjutan hidup setelah hidup yang sekarang. Yang dimaksud dengan
orang-orang yang diberi ilmu itu menurut Imam An-Thobari dalm tafsirnya ialah
ahli kita (pemeluk agama Yahudi dan Nasrani yang menyatakan iman masuk kedalam
agama islam). Zamarkasyi dalam tafsirnya menambahkan lagi, bahwa yang dimaksud
dengan hal orang yang diberi ilmu ialah sahabat-sahabat Rosulullah SAW. Dan
beliaupun menambahkankemungkinan juga umat Muhammad sendiri yang akan datang
dibelakang hari setelah Rosulullah Wafat.( tafsir Al-Azhar, HAMKA: 135)
Pendapat Zamarkasyilah yang tepat,
bahwa tiap oarang diberi ilmu pengetahuan oleh Tuhan, pastilah pergaya akan
adanya hari kiamat. Hasil ilmu pengetahuan dalam menyelidiki alam semesta ini
telah sampai kepada pendapat bahwa kiamat, yang berarti kehancuran seluruh alam
itu adalah hal yang tidak mustahil. Kemajuan pesat ilmu pengetahuan,
menyebabkan akan menambah keimanan pada dirinya, akan tumbuh subur iman itu dan
dia akan bertambah yakin. Selain dari kebenaran isi kandungan al-Quran yang di
sampaikan Nabi Muhammad itu ialah memberi petunjuk kepada jalan yang
perkasa , yaitu jalan lurus yang tidk dapat diganti, peraturan ketat,
disiplin yang keras dan ajaran yang perkaa itupun terpuji.( tafsir Al-Azhar,
HAMKA: 135)
SURAH AT TAUBAH AYAT 122
وَمَا
كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ
مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ (122)وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا
رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُون
ARTINYA:
Tidak
sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak
pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam
pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya
apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga
dirinya.(122)
ARTI
PERKATA:
وَمَا :
dan tidak
كَانَ :
ada/patut
الْمُؤْمِنُونَ : orang-orang yang mukmin
لِيَنفِرُوا۟ :
untuk mereka pergi
كَآفَّةً :
seluruhnya
فَلَوْلَا :
maka mengapa tidak
نَفَرَ :
keluar/pergi
فِرْقَةٍ :
golongan
طَآئِفَةٌ :
kelompok/beberapa orang
لِّيَتَفَقَّهُوا۟ : untuk mereka memperdalam
الدِّينِ :
agama
قَوْمَهُمْ :
kaumnya
يَحْذَرُونَ :
mereka menjaga diri/hati-hati
KANDUNGAN
Dalam ayat ini, Allah swt. menerangkan
bahwa tidak perlu semua orang mukmin berangkat ke medan perang, bila peperangan
itu dapat dilakukan oleh sebagian kaum muslimin saja. Tetapi harus ada
pembagian tugas dalam masyarakat, sebagian berangkat ke medan perang, dan
sebagian lagi bertekun menuntut ilmu dan mendalami ilmu-ilmu agama Islam supaya
ajaran-ajaran agama itu dapat diajarkan secara merata, dan dakwah dapat
dilakukan dengan cara yang lebih efektif dan bermanfaat serta kecerdasan umat
Islam dapat ditingkatkan.
nie buat anak" sepuluh D yang belum dapat kliping BTA..:)