Senin, 10 Desember 2012

Kliping BTA


SURAH AT-TIN
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
1.   وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ
2.   وَطُورِ سِينِينَ
3.   وَهَذَا الْبَلَدِ الأمِينِ
4.   لَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
5.   ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ
6.   إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ
7.   فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعْدُ بِالدِّينِ
8.    أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ
Artinya:
1.      Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun,
2.      dan demi bukit Sinai,
3.      dan demi kota (Mekah) ini yang aman,
4.      sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.
5.      Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka),
6.      kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.
7.      Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu?
8.      Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?










Arti perkata:
 

                = demi buah tin
 

                = dan buah zaitun
 

                = dan bukit
               
= Sinai

= dan ini
 

= negeri
 

= sesungguhnya
 

= manusia
 

= bentuk
 

= kami kembalikan
 

= tempat yang rendah
 

= kebajikan/saleh
 

= pahala
 

= terputus
 

= mendustakanmu
 

= hari pembalasan/ agama
 

= lebih bijaksana





Makna
Dalam surat at-Tin, Allah terlalu amat sangat jelas sekali ketika ingin benar2 mengatakan dan menetapkan bahwa manusia itu adalah makhluk ciptaan-Nya yang sempurna. Bila kita perhatikan ayat pertama, kedua dan ketiga, 3 ayat tersebut diawali dengan sumpah semua.
-Sumpah tentang buah Tin dan Zaitun – Bukit Tursina dan Negeri Makah
Sebagian mufasir mengartikan buah Tin dan Zaitun secara dhohir seperti termaktub dalam alquran. Buah Tin dan Zaitun adalah buah yang banyak mempunyai manfaat bagi kesehatan tubuh, bahkan ada satu riwayat dari Abu Darda yang menyatakan bahwa Rasulullah pernah bersabda bahwa, kalau seandainya ada buah yang turun dari langit maka itulah dia buah Tin......dan buah Zaitun sebagaimana yang kita ketahui selain dia juga mengandung banyak manfaat kesehatan, buah tersebut adalah buah yang diberkahi oleh Alloh. Bahkan ada juga yang meriwayatkan ketika Adam dan Hawa diturunkan dari langit dan dalam keadaan tanpa busana mereka berdua mengambil dedaunan Zaitun untuk dijadikan penutup aurat.
Yang tersebut diatas adalah yang memaknai buah Tin dan Zaitun sebagai dhohirul ayah. Tapi ada juga yang memaknai Tin dan Zaitun disini sebagai kalimat isti'arah yang menunjukan tempat. Tin yang dimaksud disini ada yang berpendapat tempat dimana pohon buah Tin banyak tumbuh yaitu di Damaskus, sedangkan Zaitun yang dimaksud disini adalah Baitul Muqaddas atau daerah Palestina. Pendapat yang mengatakan hal tersebut dikuatkan dengan ayat2 selanjutnya yang menerangkan tentang tempat-tempat dimana tiga agama samawi diturunkan oleh Alloh sebelum diselewengkan oleh kaumnya sendiri.
  • - Baitul Muqaddas adalah tempat dimana Nabi Isa As diutus oleh Alloh untuk kaum Nashrani
  • - Bukit Tursina adalah tempat dimana Nabi Musa As diutus oleh Alloh untku kaum Yahudi
  • - Sedangkan Makah adalah tempat dimana Sayyidina Muhammad menerima wahyu ilahi untuk kita semua.
Setelah tiga sumpah [qasm] tersebut Alloh memulai ayat keempat dengan jawaban sumpah [jawab al-qasm], itulah bentuk lain dari penekanan bahwa manusia adalah ciptaan-Nya yang paling sempurna.
Sedangkan untuk ayat-selanjutnya adalah keterangan rinci bahwa setelah sedemikian rupa Allah menganugrahkan penciptaannya kepada kita tinggal bagaimana kita menyikapi karunia tersebut. Allah juga menjelaskan tentang adanya kebaikan dan keburukan. Ternyata filosofi baik dan buruk bukan hanya ajaran agama samawi, agama buatan manusia sekalipun juga mengakui disana ada kebaikan dan keburukan; Zoroaster dengan Tuhan Yazdan dan Ahraman, Majusi dengan Tuhan Cahaya dan kegelapan dan lain sebagainya. Setelah kita mengetahui sedemikian rupa hakikat manusia dalam penciptaan yang sempurna maka, sikap tepat bagaimanakah yang seharusnya manusia tersebut pertanggungjawabkan? Sungguh tidak ada dosa paling hina di dunia ini kecuali berkhianat kepada Yang Maha mencipta. Rasul juga mengajari kita ketika hendak berkaca untuk membaca doa yang artinya; Ya Allah sebagaimana engkau menyempurnakan penciptaan jasadiyah kami maka sempurnakan pula lah ruhaniyah kami.
Surah Al-Mu’minun ayat 1-10
1.   قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ
2.   ٱلَّذينَ هُمْ في‏ صَلاتِهِمْ خاشِعُونَ
3.   وَ الَّذينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ
4.   وَ الَّذينَ هُمْ لِلزَّكاةِ فاعِلُونَ
5.   وَ الَّذينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حافِظُونَ
6.   إِلاَّ عَلى‏ أَزْواجِهِمْ أَوْ ما مَلَكَتْ أَيْمانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومينَ
7.   فَمَنِ ابْتَغى‏ وَراءَ ذلِكَ فَأُولئِكَ هُمُ العادُونَ
8.   وَ الَّذينَ هُمْ لِأَماناتِهِمْ وَ عَهْدِهِمْ راعُونَ
9.   وَ الَّذينَ هُمْ عَلى‏ صَلَواتِهِمْ يُحافِظُونَ َ
10.           أُولئِكَ هُمُ الْوارِثُونَ

Artinya:
1.      Sesungguhnya menanglah orang-orang yang beriman.
2.      Orang-orang yang khusyu` di dalam melakukan sembahyang.
3.      Dan orang-orang yang terhadap segala laku yang sia-sia me­nampik dengan keras.
4.      Dan orang-orang yang mengerjakan ZAKAT.
5.      Dan orang-orang yang selalu menjaga faraj (kelamin) mereka.
6.      Kecuali terhadap isterinya atau hambasahayanya, maka tidaklah mereka tercela.
7.      Tetapi barangsiapa yang masih memilih jalan di luar itu, itulah orang-orang yang telah melang­gar garis.
8.      Dan orang-orang yang menjaga dengan baik terhadap amanat dan janjinya.
9.      Dan orang-orang yang meme­lihara dan menjaga semua waktu sembahyangnya.
10.  Mereka itulah yang akan me­warisi.




Arti perkata:
                                          = Orang-orang yang beriman
                                          = Orang-orang yang khyusu
                                          = Perbuatan tak berguna
                                          = Pada zakat
                                          = Pada kemaluan mereka
                                          = Istri-istri mereka
                                          = Tangan kanan mereka
                                          = Tercela
                                          = Belakang (selain)
                                          = Melampaui batas
                                          = Pada amanat mereka
                                          = Mereka menjaga/memelihara
                                          = Orang-orang yang mewarisi
                                         










Kandungan
Hadis dari Imam Ahmad, diriwayatkan dari Umar Bin Khatab. Dia berkata apabila wahyu turun pada Rasulullah SAW. Maka terdengarlah suara seperti dengung lebah. Dan kami terdiam sejenak. Lalu beliau mengangkat kedua tangannya seraya berdoa. “Ya Allah berilah  tambahan pada kami, jangan kau menguranginya, muliakanlah kami dan janganlah kau hinakan kami, tambahkanlah rizky kami,utamakanlah kami, dan ridhoilah kami” …..Lalu beliau berkata pada kami.”Sesungguhnya Allah sudah menurunkan 10 ayat kepadaku, dan jikalau kalian mengamalkannya maka kalian adalah orang-orang yang beruntung dan akan mendapatkan surga firdaus”.
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman  (Ayat 1).
Kenapa bukan orang-orang islam, ataupun orang-orang kaya atau pintar yang disebut beruntung? Karena hal itu tidaklah cukup. .
Orang beriman adalah orang yang beriman kepada Allah  dan rasulnya dan tiada keraguan. Tidak ada toleransi untuk mengurangi amalan. Jadi jangan menganggap mengurangi amalan adalah perbuatan yang benar. Bisa saja karena keraguan-keraguan itu, kita disebut sebagai orang yang munafik. Jangan memberikan toleransi pada diri sendiri dalam berinadah.
Yaitu orang-orang yang khusyu dalam sembahyangnya (Ayat 2).
Tidak semua orang mendapatkan khusyu. Dalam sebuah hadis Rasulullah bersabda.”..sesungguhnya kesenanganku adalah wewangian dan wanita serta khusyu dalam shalat”. Khusyu dalam sholat hanya akan didapat bagi orang-orang yang menyerahkan jiwa dan raganya dalam sholat. Khusyu adalah nikmat, karena Sholat mencegah perbuatan mungkar. Wajar saja jika banyak orang sholat namun perbuatannya tak mencerminkan seorang yang ahli ibadah, karena tiada kekhusyuan dalam ibadahnya sehingga hidupnya tidak tenang.
Orang yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tiada beruna  (Ayat 3).
Renungkanlah kehidupan kita hingga saat ini, apakah segala perbuatan kita bermanfaat. Mudah saja untuk menentukan suatu perbuatan apakah bermanfaat atau tidak, yakni dengan memikirkan perbuatan kita yang kita lakukan apakah mendekatkan kita pada Allah atau malah sebaliknya?. Islam menganjurkan dalam perbuatan dan perkataan sehari-hari harus dalam kontur ibadah karena Allah. Namun jangan menafsirkan bahwa sorang muslim  tidak boleh bersantai ataupun bersenang-senang. Namun jika ingin bersantai dan beristirahat lebih dianjurkan agar hal itu dilakukan agar kita mendapat tubuh yang fresh dan bisa lebih baik lagi dalam melakukan ibadah. Beristirahat dan bersenang-senanglah untuk amal.
Dan orang-orang yang menunaikan zakat (Ayat 4).
Zakat adalah kewajiban yang kerap ditinggalkan. Hal itu disebabkan karena manusia kerap tak sadar terhadap ni’mat Allah.
Orang-orang yang memelihara kemaluannya (Ayat 5).
Ini tidak hanya bagi yang beristeri. Bagi pemuda yang belum menikah harus bisa memelihara pandangan, hati, pikiran dan angan-angannya. Saat ini, kita bisa melihat banyak anak-anak muda yang terjebak dalam pergaulan bebas. Karena mereka masih bodoh/alfa dalam mengendalikan nafsu. Bahkan bagi seorang muslim sejati, mengkhayal yang tidak-tidak saja dalam pikirannya hukumnya adalah haram. Puasa sunat adalah obat paling ampuh untuk mengendalikan nafsu.
Orang-orang yang memelihara amanat (Ayat 8).
Dalam Al-quran disebutkan bahwa ketika amanat diserahkan kepada gunung-gunung, namun mereka tak sanggup memikulnya. Akhirnya amanat diterima oleh manusia. Amanat adalah hal besar yang harus dipertanggungjawabkan di akherat kelak. Ingat, tak ada satupun amanat yang tidak akan dipertanggungjawabkan. Maka berhati-hatilah dalam berjanji, dan jikalau memikul amanat, tuntaskan dengan sebaik-baiknya.
Dan oraang-orang yang memelihara sembahyang (Ayat 9).
Melakasanakan sholat tepat waktu dan menjaga sholat-sholat yang dapat merusaknya. Imam Makhsud meriwayatkan bahwa shalat tepat waktu adalah amalan utama yang amat disukai oleh Allah SWT.
Dan merekalah orang-orang yang akan mewarisi surga firdaus (Ayat 11)
Bagaimana? Sudahkah amalan diatas kita kerjakan?. Jika bermimpi ingin selamat dunia akherat. Rasulullah menganjurkan agar kita mengamalkan ayat-ayat Al Qur’an di atas.
SURAH AL ANFAL AYAT 2-4

1.   إِنَّمَاالْمُؤْمِنُونَالَّذِينَإِذَاذُكِرَاللّهُوَجِلَتْقُلُوبُهُمْوَإِذَاتُلِيَتْعَلَيْهِمْآيَاتُهُزَادَتْهُمْإِيمَانًاوَعَلَىرَبِّهِمْيَتَوَكَّلُونَ

3.   الَّذِينَيُقِيمُونَالصَّلاَةَوَمِمَّارَزَقْنَاهُمْيُنفِقُونَ

4.   أُوْلَئِكَهُمُالْمُؤْمِنُونَحَقًّا لَّهُمْدَرَجَاتٌعِندَرَبِّهِمْوَمَغْفِرَةٌوَرِزْقٌكَرِيمٌ



Artinya:
1.      Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal,
2.      (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.
3.      Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia.
Arti perkata:
إِنَّمَا                   : sesungguhnya hanyalah
الْمُؤْمِنُونَ          : orang-orang yang beriman
إِذَا                     : apabila
ذُكِرَ                  : di sebut
وَجِلَتْ               : gemetarlah
قُلُوبُهُمْ               : hati mereka
تُلِيَتْ                 : di bacakan
ءَايٰتُهُۥ                : ayat-ayatnya
رَبِّهِمْ                 : tuhan mereka
يَتَوَكَّلُونَ                        : mereka bertawakal
الصَّلَوٰةَ              : sholat
وَمِمَّا                 : dan dari ap (rezeki)
رَزَقْنٰهُمْ              : telah kami berikan rezeki kepada mereka
يُنفِقُونَ               : mereka menafkahkan
أُو۟لٰٓئِكَ                : itulah
حَقًّا                   : sebenar-benarnya
دَرَجٰتٌ              : derajat
عِندَ                   : di sisi
وَمَغْفِرَةٌ             : dan ampunan
كَرِيمٌ                 : yang mulia

KANDUNGAN
Tafsir Global
Empat ayat pertama ini merupakan muqaddimah (pendahuluan) surah Al-Anfal. Surah Al-Anfal dimulai dengan penjelasan tentang hukum hasil rampasan perang (al-anfal, ghanimah) yang merupakan salah satu dampak peperangan. Hukum pembagiannya dikembalikan kepada Allah dan Rasul shallallahu ’alaihi wasallam, yang kemudian dijelaskan secara rinci pada ayat 41. Yang demikian ini karena Allah-lah pemilik segala sesuatu, dan Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam adalah khalifah-Nya.
Selanjutnya Allah Ta’ala memerintahkan orang-orang beriman dengan tiga hal, yaitu taqwa, memperbaiki hubungan antar sesama mukmin dan taat kepada Allah serta Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam. Ketiga hal tersebut merupakan perkara-perkara yang sangat penting dalam jihad. Jihad yang tidak dilandaskan pada ketaqwaan bukanlah jihad yang benar dalam kacamata Islam. Selanjutnya, jihad sangat membutuhkan kesatuan dan kesolidan shaf. Oleh karena itu wajib dilakukan upaya perbaikan hubungan antar sesama mujahidin, khususnya jika terjadi perselisihan. Mengapa? Karena perselisihan selalu merupakan faktor penyebab terjadinya kelemahan dan kegagalan (QS Al-Anfal: 46). Selain ketaqwaan dan kesatuan shaf, kedisiplinan (indhibath) merupakan syarat yang sangat asasi dalam jihad, karena jihad tidak mungkin bisa ditegakkan tanpa adanya unsur kedisiplinan diantara para mujahidin. Dan asas kedisiplinan dalam Islam adalah ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, yang sekeligus merupakan tanda dan parameter keimanan.
Berikutnya dalam ayat 2 sampai 4, Allah Ta’ala menyebutkan sifat-sifat mukminin sejati. Ini sangat relevan dan penting dalam konteks jihad islami. Karena hanya dengan iman yang sejati dan hakikilah jihad islami bisa tegak. Yang disebut dengan iman yang hakiki adalah perpaduan antara iman akal pikiran yang bersifat teoretis dan iman hati yang bersifat praktis implementatif (Lihat QS Al-Hujurat: 14-15).
Diriwayatkan bahwa seseorang bertanya kepada Imam Hasan Al-Bashri. ”Ya Aba Sa’id (julukan Imam Hasan Al-Bashri), apakah Anda seorang mukmin?” Beliaupun menjawab,”Iman itu ada dua macam. Jika yang kamu tanyakan adalah iman (secara teoretis) kepada Allah, pada malaikat-malaikat-Nya, pada kitab-kitab-Nya, pada rasul-rasul-Nya, pada Surga, pada Neraka, pada Hari Berbangkit dan pada Hari Penghisaban, maka saya adalah orang yang beriman. Namun jika yang kamu tanyakan adalah tentang firman Allah: ’Orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang apabila disebut Nama Allah bergetarlah hatinya’... dan seterusnya sampai ’Mereka itulah sebenar-benarnya orang-orang yang beriman’ (QS Al-Anfal: 2-4), maka demi Allah saya tidak tahu apakah saya benar-benar termasuk dalam kategori mereka atau tidak.”
Pada ayat 2 sampai 4, Allah menyebutkan beberapa sifat orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Pertama, mereka adalah orang-orang yang jika disebut Nama Allah, mereka gemetar dan takut. Kedua, jika dibacakan ayat-ayat Al-Qur’an, iman mereka menjadi bertambah. Ketiga, mereka bertawakkal hanya kepada Allah semata. Keempat, mereka menegakkan shalat dengan menyempurnakan seluruh syarat, rukun, wajib dan sunnahnya. Dan kelima, mereka adalah orang-orang yang gemar berinfak dari rizki yang diberikan kepada mereka, dan ini mencakup pembayaran zakat serta pemenuhan hak-hak sesama, baik yang wajib maupun yang sunnah.

AT TAUBAH AYAT 71


Artinya:
Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(71)
Arti Perkata:
أَوْلِيَآءُ                : pelindung/penolong
يَأْمُرُونَ             : mereka menyuruh
بِالْمَعْرُوفِ         : dengan berbuat kebaikan
وَيَنْهَوْنَ             : dan mereka mencegah
الْمُنكَرِ               ; berbuat kemungkaran
وَيُقِيمُونَ                        : dan mereka mendirikan
الصَّلَوٰةَ              : salat
الصَّلَوٰةَ              : dan mereka menunaikan
الزَّكَوٰةَ               : zakat
وَيُطِيعُونَ          : dan mereka taat
وَرَسُولَهُۥٓ            : rasulNya
سَيَرْحَمُهُمُ          : mereka di beri rahmat
إِنَّ                     : sesungguhnya
عَزِيزٌ                : maha perkasa
اللَّـهَ                  : Allah
حَكِيمٌ                 : maha bijaksana

KANDUNGAN
Secara jelas, pada ayat 71 di atas, menguraikan keadaan dan karakteristik orang-orang mukmin, yaitu sebagian mereka (mukmin dan mukminat) sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, menyuruh yang ma’ruf, mencegah yang mungkar, menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Lima karakteristik mukmin/nat inilah yang dalam ayat ini mendapatkan garansi rahmat dari Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Rahmat yang dalam redaksi ayat ini menggunakana سيرحمهم (akan merahmati mereka), rahmat di sini bukan hanya rahmat di akhirat, tetap melingkupi juga rahmat di dunia dan akhirat. Dan rahmat terbesar antara lain adalah kenikmatan berhubungan dengan Allah dan rahmat ketenangan batin. Kenikmatan di dunia bentuknya sangat bervariasi, dari indahnya hidup berumah tangga, hingga nikmat dan berkahnya rizki yang melimpah. Begitupun rahmat di akhirat yang sudah pasti sulit untuk diungkapkan dan digambarkan, yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak terdengar sebelumnya oleh telinga, dan atau bahkan tidak terlintas dalam benak pikiran manusia. Jika melihat pada ayat-ayat sebelumnya, keadaan berbalik justru diulas pada ayat 67-68 yang mengulas karakteristik orang-orang munafik yaitu, mereka menyuruh yang munkar dan melarang yang ma’ruf, menggenggamkan tangan mereka, dan mereka melupakan Allah. Pada redaksi ayat 71 yang berbunyi بعضهم أولياء بعض (sebagian mereka adalah penolong bagi sebagaian yang lain) yang menjelaskan keadaan karakteristik orang-orang mukmin dan mukminat. Flash back ke ayat 67 kembali terdapat perbedaan redaksi berbunyi بعضهم من بعض (sebagian mereka dari sebagian yang lain). Hal ini memberikan perhatian tersendiri bagi mufassir, sehingga beragam pula penjelasannya. Ada yang berpandangan bahwa ini merupakan isyarat kaum mukminin yang tidak saling menyempurnakan keimanannya lantaran setiap orang mukminin sudah tetap imannya. Dalam artian bahwa mereka telah memiliki keimanan yang mantap, bukan taklid buta. Keteragan ini terindikasi dari redaksi ayat awliyâ’ yang bermakna ketulusan dalam menolong. Keadaan berbalik dari orang-orang munafik yang kesatuan mereka atas dasar dorongan sifat-sifat buruk. Demikian ungkapan al-Biqâ’i, juga Ibnu ‘Asyûr, diuraikan pula oleh M. Quraish Shihab.


SURAH AL MUJADALAH AYAT 11
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا (11)تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
ARTINYA:
Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
ARTI PERKATA:
يٰٓأَيُّهَا      : wahai
ءَامَنُوٓا۟   : beriman
قِيلَ       : di katakan
تَفَسَّحُوا۟  : berlapang-lapanglah
الْمَجٰلِسِ : majelis
لَكُمْ        : kepadamu
انشُزُوا۟  : bangunlah
يَرْفَعِ     : meninggikan
مِنكُمْ     : di antara kamu
الْعِلْمَ      : ilmu
دَرَجٰتٍ  : derajat
بِمَا        : dengan apa-apa
تَعْمَلُونَ : kamu kerjakan
خَبِي      : maha mengetahui

KANDUNGAN
Asbabun Nuzul QS. Al-Mujadalah ayat 11 ini, diriwayatkan oleh Ibn Abi Hatim dari Muqatil bin Hibban, ia mengatakan bahwa pada suatu hari yaitu hari Jum’at, Rasulullah Saw berada di Shuffah mengadakan pertemuan di suatu tempat yang sempit, dengan maksud menghormati pahlawan perang Badar yang terdiri dari kaum Muhajirin dan Anshar. Beberapa pahlawan perang Badar ini terlambat datang, diantaranya Tsabit bin Qais, sehingga mereka berdiri diluar ruangan. Mereka mengucapkan salam “Assalamu’alaikum Ayyuhan Nabi Wabarakatuh”, lalu Nabi menjawabnya. Mereka pun mengucapkan sama kepada orang-orang yang terlebih dahulu datang, dan dijawab pula oleh mereka. Para pahlawan Badar itu tetap berdiri, menunggu tempat yang disediakan bagi mereka tetapi tak ada yang memperdulikannya. Melihat keadaan tersebut, Rasulullah menjadi kecewa lalu menyuruh kepada orang-orang di sekitarnya untuk berdiri. Diantara mereka ada yang berdiri tetapi rasa keengganan nampak di wajah mereka. Maka orang-orang munafik memberikan reaksi dengan maksud mencela Nabi, sambil mengatakan “Demi Allah, Muhammad tidak adil, ada orang yang lebih dahulu datang dengan maksud memperoleh tempat duduk di dekatnya, tetapi disuruh berdiri untuk diberikan kepada orang yang terlambat datang”. Lalu turunlah ayat ini.
Bagian akhir ayat ini menjelaskan bahwa Allah akan mengangkat tinggi kedudukan orang yang beriman dan orang yang diberi ilmu. Orang-orang yang beriman diangkat kedudukannya oleh Allah dan Rasul-Nya, sedangkan orang-orang yang berilmu diangkat kedudukannya karena mereka dapat member banyak manfaat kepada orang lain. Ilmu disini tidak terbatas pada ilmu-ilmu agama saja, tetapi termasuk di dalamnya ilmu-ilmu keduniaan. Apapun ilmu yang dimiliki seseorang bila ilmu itu bermanfaat bagi dirinya dan orang lain, ilmu itu tergolong salah satu dalam tiga pusaka yang tidak akan punah meskipun pemiliknya telah meninggal dunia. Tiga pusaka dimaksud adalah sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang shaleh yang mendoakan kepada orang tuanya.
Dalam QS. Al-Mujadalah ayat 11 di atas, Allah menganjurkan kepada kita agar senantiasa mau bekerja keras, baik dalam menuntut ilmu maupun bekerja mencari nafkah. Hanya orang-orang yang rajin belajarlah yang akan mendapatkan banyak ilmu. Dan hanya orang-orang yang berilmulah yang memiliki semangat kerja untuk meraih kebahagiaan hidup. Oleh karena itu, Allah menjamin akan mengangkat derajat kehidupan orang-orang yang beriman dan berilmu.
Dalam kehidupan sehari-hari kita dapat menyaksikan orang yang rajin belajar dan bekerja hidupnya sukses dan berprestasi, sedangkan orang yang malas dan tidak memiliki ilmu hidupnya susah dan selalu gagal. Betapa pentingnya memiliki ilmu pengetahuan dan semangat berkerja keras. Sebab hanya dengan ilmu yang bermanfaat dan amal yang bergunalah manusia akan mendapatkan kebahagiaan hidup, baik di dunia maupun di akhirat.
Perilaku orang yang mengamalkan isi kandungan ayat antara lain :
  1. Perilaku disiplin dan taat asas, sehingga tidak ada pihak yang dirugikan baik diri sendiri maupun orang lain
  2. Menghormati hak dan kewibawaan orang lain, sebab pada dasarnya semua orang ingin dihargai dan dihormati kewibawaannya
  3. Rajin dan giat mencari ilmu, baik ilmu umum maupun ilmu agama
  1. Rajin dan taat beribadah kepada Allah
  2. Bersikap sportif dan konsekuen dengan bersedia menerima kesalahan dan kekurang diri sendiri serta mengakui kelebihan dan kebenaran dari orang lain
  3. Bekerja/belajar sesuai dengan aturan yang telah ditentukan
  4. Bekerja/belajar dengan penuh semangat, sehingga dipandang sebagai sesuatu yang menyenangkan
  5. Bekerja dengan sikap penuh tanggung jawab, tidak hanya kepada manusia melainkan kepada Allah
  6. Bekerja dengan didasari niat ibadah kepada Allah Swt.
Sebagai generasi yang hidup pada era modern, persaingan hidup semakin ketat dan peluang mendapat pekerjaan semakin sempit, hendaknya kita dapat mempersiapkan diri dengan berbagai bekal ilmu pengetahuan dan keterampilan, serta etos kerja yang baik. Dengan demikian kita tidak akan tertinggal oleh generasi lain yang juga memiliki perbekalan diri yang cukup. Oleh sebab itu, hendaknya kita dapat membiasakan diri beretos kerja yang baik sejak saat ini. Untuk dapat membiasakan diri menerapkan beretos kerja yang baik, hendaknya terlebih dahulu diperhatikan :
  1. Pahami dengan baik bahwa waktu dan kesempatan datangnya hanya sekali dalam seumur hidup. Hari ini tidak akan datang lagi pada hari esok atau lusa, ia akan terkubur oleh hari-hari berikutnya.
  2. Biasakan menghargai waktu dan menggunakannya untuk hal-hal yang positif, jangan biarkan waktu berlalu tanpa arti atau terisi dengan perbuatan yang sia-sia
  3. Biasakan hidup teratur dan bersikap disiplin, taat kepada aturan, tepat atas komitmen, dan setia pada janji, sehingga hidup terasa indah dan bermakna
  4. Jadikan suatu pekerjaan sebagai kewajiban yang harus ditunaikan, sehingga tidak terbersit pikiran akan menyepelekannya
  5. Mulailah membiasakan diri beretos kerja yang baik sejak sekarang, dengan menata jadwal kegiatan sendiri dan berusaha menepati dan melaksanakannya.

SURAH SABBA AYAT 6
ARTINYA:
6.       Dan orang-orang yang diberi ilmu (Ahli Kitab) berpendapat bahwa wahyu yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itulah yang benar dan menunjuki (manusia) kepada jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.
ARTI PERKATA:
وَيَرَى    : dan melihat/berpendapat
الْعِلْمَ      : ilmu
أُنزِلَ     : di turunkan
إِلَيْكَ      : kepadamu
رَّبِّكَ      : tuhanmu
الْحَقَّ     : benar
وَيَهْدِىٓ  : dan ia memberi petunjuk
صِرٰطِ   : jalan
الْعَزِيزِ  : maha perkasa
الْحَمِيدِ   : maha terpuji
KANDUNGAN
Dari ayat tersebut artinya ialah bahwa orang yang diberi ilmu pengetahuan oleh Tuhan,pastilah karena ilmunya itu akan mempercayai kandungan isi Al-Quran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW adalah suatu kebenaran. Diantara isi Al-Quran itu tentang akan adanya hari kiamat kelak. Akan ada lanjutan hidup setelah hidup yang sekarang. Yang dimaksud dengan orang-orang yang diberi ilmu itu menurut Imam An-Thobari dalm tafsirnya ialah ahli kita (pemeluk agama Yahudi dan Nasrani yang menyatakan iman masuk kedalam agama islam). Zamarkasyi dalam tafsirnya menambahkan lagi, bahwa yang dimaksud dengan hal orang yang diberi ilmu ialah sahabat-sahabat Rosulullah SAW. Dan beliaupun menambahkankemungkinan juga umat Muhammad sendiri yang akan datang dibelakang hari setelah Rosulullah Wafat.( tafsir Al-Azhar, HAMKA: 135)
Pendapat Zamarkasyilah yang tepat, bahwa tiap oarang diberi ilmu pengetahuan oleh Tuhan, pastilah pergaya akan adanya hari kiamat. Hasil ilmu pengetahuan dalam menyelidiki alam semesta ini telah sampai kepada pendapat bahwa kiamat, yang berarti kehancuran seluruh alam itu adalah hal yang tidak mustahil. Kemajuan pesat ilmu pengetahuan, menyebabkan akan menambah keimanan pada dirinya, akan tumbuh subur iman itu dan dia akan bertambah yakin. Selain dari kebenaran isi kandungan al-Quran yang di sampaikan Nabi Muhammad itu ialah memberi petunjuk kepada jalan yang perkasa , yaitu jalan lurus yang tidk dapat diganti, peraturan ketat, disiplin yang keras dan ajaran yang perkaa itupun terpuji.( tafsir Al-Azhar, HAMKA: 135)


SURAH AT TAUBAH AYAT 122
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ (122)وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُون 

ARTINYA:
Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.(122)
ARTI PERKATA:
وَمَا                   : dan tidak
كَانَ                   : ada/patut
الْمُؤْمِنُونَ          : orang-orang yang mukmin
لِيَنفِرُوا۟              : untuk mereka pergi
كَآفَّةً                  : seluruhnya
فَلَوْلَا                 : maka mengapa tidak
نَفَرَ                   : keluar/pergi
فِرْقَةٍ                  : golongan
طَآئِفَةٌ                : kelompok/beberapa orang
لِّيَتَفَقَّهُوا۟             : untuk mereka memperdalam
الدِّينِ                 : agama
قَوْمَهُمْ               : kaumnya
يَحْذَرُونَ                        : mereka menjaga diri/hati-hati
KANDUNGAN
Dalam ayat ini, Allah swt. menerangkan bahwa tidak perlu semua orang mukmin berangkat ke medan perang, bila peperangan itu dapat dilakukan oleh sebagian kaum muslimin saja. Tetapi harus ada pembagian tugas dalam masyarakat, sebagian berangkat ke medan perang, dan sebagian lagi bertekun menuntut ilmu dan mendalami ilmu-ilmu agama Islam supaya ajaran-ajaran agama itu dapat diajarkan secara merata, dan dakwah dapat dilakukan dengan cara yang lebih efektif dan bermanfaat serta kecerdasan umat Islam dapat ditingkatkan. 



nie buat anak" sepuluh D yang belum dapat kliping BTA..:)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar